Jumat, 26 Maret 2010

MEROSOTNYA PRESTASI PERSIS SOLO

Prihatin satu kata buat kondisi Persis Solo saat ini. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Persis Solo?Persis yang sempat terbangun dari tidur panjangya kini kembali dinina bobokkan. Prestasi Persis yang sempat menembus final divisi I melawan persebaya kini hilang kembali. Miris memang tapi itulah kenyataannya. Persis yang notabennya adalah klub dari kota besar yang dikenal dengan sebutan Spirit Of Java ini sekarang sedang kehilangan "Spiritnya" untuk bangkit dari keterpurukan yaitu tetap bertahan di divisi utama. Haruskah klub sebesar Persis harus bermain lagi di divisi satu?Ya itulah jawaban yang pasti saat ini. Hasil seri 0-0 melawan Gresik United kemarin semakin memperparah keadaan Persis untuk bertahan.
Siapa yang pantas disalahkan melihat kondisi prestasi Persis saat in? Pemkot? Masyarakat? Pelatih? Pemain? atau kah Managemen? Semuanya bertanggung jawab atas melorotnya prestasi persis. Pemkot yang disini masih menjadi pemilik dari Persis kurang begitu perhatian dengan kondisi klub dengan tidak adanya dana yang dikucurkan. Ada alasan memang klub tidak boleh lagi menggunakan dana APBD tapi toh didaerah lain banyak klub yang masih didukund dari dana pemerintah khususnya pemerintah daerah/Kota. Mereka (pemda/pemkot daerah lain,red) mempunyai banyak cara untuk mendanai jalannya klub kebanggaan daerah mereka yaitu dengan cara hibah atau yang lainnya. Masyarakat pun terlambat dalam merespons kondisi finansial klub yang mengalami kendala. Sumbangan dana baru diterima setelah kompetisi berjalan dan klub terpuruk. memang terlambat tapi setidaknya ada masyarakat yang masih peduli terhadap prestasi persis.
Bagaimana dengan Pasoepati? Dukungan Pasoepati yang begitu besar belum bisa meningkatkan spirit pemain. Dukungan dari Pasoepati yang begitu kuat pada awal kompetisi tak diikuti di tengah-tengah kompetisi dan dukungan baru dirasakan kembali pada akhir kompetisi. Kita harus belajar dari saudara tua Aremania yang selalu mendukung klubnya bagaimanapun keaadaan klub mereka. Yang perlu dicontoh lagi mereka rela merogoh dompet mereka 25-30 ribu untuk menyokong dana finansial klub yang mengalami masalah. Melihat dari itu seharusnya panpel menaikkan harga tiket yang dari 10.000 menjadi 20.000 atau 25.000 yang sisa dari uang tiket tersebut digunakn untuk menambah kas klub. Ini juga merupakan bentuk bukti dari loyalitas Pasoepati. Dukungan yang diperlukan saat ini tidak hanya dari nyanyian kita tapi juga dari sokongan dana.
Manegemen pun dalam menangani klub jangan hanya setengah hati. Tidak memanfaatkan klub untuk kepentingan pribadi dan kendaraan politik. Benar-benar murni untuk prestasi Persis. Kita tidak tahu bagaimana proses awal manegemen merekrut pemain. Pemain yang ada saat ini belum memenuhi standar rata-rata kompetisi divisi utama. Memang hanya sebagian pemain yang layak untuk bermain di level divisi utama. Tapi darah-darah muda yang lain belumlah siap untuk bersaingan di kompetisi divisi utama.
Dari semua pengalaman yang diperoleh saat ini hendaknya menjadi guru bagi kita semua untuk kembali mengangkat prestai klub kebanggaan kita Persis Solo. Memang diperlukan kerjasama antara Pemerintah daerah, manegemen, pelatih, pemain, masyarakat dan supporter untuk mengembalikan spirit dari kota “Spirit of Java” ini. Semoga di tahun yang akan datang prestasi Persis Solo bisa lebih meningkat tentunya dengan dukungan dari semua pihak.(uz)